Oleh: ardianita | 12/17/2011

Olahraga pagi di lapangan Gulun

Setiap minggu pagi sekarang ini saya selalu mengajak istri untuk olahraga pagi di lapangan Gulun, yang sebelumnya saya selalu bersepeda bersama teman-teman club. Saya pikir saya ini egois membiarkan istri olahraga sendiri sedang saya bersenang-senag bersama teman-teman. Apalagi istri sering malas olahraga karena tidak ada temannya. Sebenarnya saya sudah membelikan sepeda di tempat untuk olahraga di rumah, tapi akhirnya bosan juga. Akhirnya saya mengalah, khan juga untuk kebaikan bersama. Hanya apabila ada kegiatan di club sepeda, seperti tour atau ada undangan, saya baru mengikutinya.

Lapangan Gulun adalah lapangan sepak bola, yang di sekelilingnya dibuat jogging track, di sisi timur dibuat lapangan volly dan lompat jauh, di sisi utara ada jalan batu untuk pijat refleksi, dan di sebelah barat ada warung-warung yang menjajakan makanan. Setiap pagi maupun sore tidak pernah sepi dari orang berlari-lari atau jalan cepat. Apalagi hari Sabtu pagi dan Minggu pagi, suasananya ramai sekali.

Perbedaan antara lapangan Gulun dengan Aloon-aloon Madiun pada hari Minggu pagi, di lapangan Gulun orang datang kesana adalah murni untuk olahraga dan mencari kesembuhan dari sakitnya dengan pijat di jalan batu. Sedang di aloon-aloon bercampur antara yang olahraga maupun yang sekedar jalan-jalan mencari sarapan/pacaran. Karena di sana banyak sekali orang jualan makanan. Selain itu ada senam pagi yang instrukturnya cewek. Pengunjung aloon-aloon sebagian besar anak muda sedang di Gulun pengunjungnya orang tua bahkan banyak yang sudah sakit-sakitan, tetapi sekarang berhubung dibuatkan taman dan arena bermain, anak-anak kecil mulai banyak sehingga pedagang pentol juga ikut berdatangan. Udaranya sudah tidak sesegar dulu lagi karena bercampur aroma pentol bakar.  Sekarang berhubung semakin ramai orang berolahraga ke sana, maka muncullah tukang parkir liar. Inilah yang sekarang banyak yang mengeluhkan.

Kelihatannya di Madiun sudah tinggi angka penganggurannya, karena banyak sekali tukang parkirnya, dulu ada warung yang sepi pembeli sehingga tidak ada tukang parkirnya, tetapi sekarang setelah ramai muncullah si tukang parkir. Iya kalau dia bekerja, wong kita cari tempat parkir sendiri, menata sepeda sendiri, setelah mau keluar datanglah dia sambil menadahkan tangannya. Sepeda motor 1000 rupiah. Keluar lagi ongkos tambahan. Begitu juga di monumen Kresek, bila hari minggu ada kelompok senam pagi, maka muncullah si tukang parkir.

Jadi apabila Anda ingin berolahraga pagi, dan tidak ingin bayar parkir, harus lihat-lihat dulu di mana si tukang parkir berada. Apabila di Gulun, di sekitar warung makan dan di dekat tempat voly (tapi saya lihat sudah ada yang lihat-lihat kesempatan), atau di sebelah selatan dekat tukang pentol.

Tapi ke Gulun masih menjadi pilihan saya untuk olahraga pagi, karena suasananya mendukung, udaranya bersih segar walau sudah ada bau pentol bakar (bila dibandingkan dengan aloon-aloon Madiun), dan jalanan di sekitar sepi. Di aloon-aloon berhubung di tengah kota, sehingga ramai dengan kendaraan yang lewat.

Olahraga pagi di Gulun, saya disuguhi pemandangan yang membuat saya banyak bersyukur. Betapa nikmatnya Allah memberi kita sehat. Sehat itu mahal. Ada orang tua yang berjalan tertatih-tatih, ada yang mencoba berjalan dengan didampingi istri, ada yang berlama-lama di batu, katanya kena kecing manis, dan sebagainya. Semua yang di Gulun menginginkan sehat, semua bersemangat tinggi untuk hidup. Ada yang beda dengan bersepeda ke Dungus bila minggu pagi. Bila ke Dungus adalah orang-orang yang sehat yang menginginkan tetap sehat dengan  sepeda yang beraneka ragam harganya mulai dari ratusan ribu sampai yang puluhan juta ada.

Di Gulun tidak ada makan bersama setelah olahraga, semua pada pulang sendiri-sendiri, memang ada yang ke warung tapi umumnya berkelompok dengan orang yang sudah dikenal atau keluarga. Sedang bila bersepeda setelah sampai di Dungus, banyak yang mampir ke warung langganan pesepeda untuk sarapan dan bercengkerama. Setelah siang pulang bersama-sama, sehingga antar pesepeda terjalin keakraban.

Begitulah suasana di lapangan Gulun bila dibandingkan dengan tempat olahraga pagi lain di Madiun. Biasanya saya beserta istri setelah berjalan cepat memutari lapangan selama 1 jam, kami pulang untuk mencari sarapan. Pilihannya ke pasar Madigondo dengan pecel yang murah meriah, atau pecel di jl Citandui yang mudah dijangkau dari Gulun dan tidak perlu antri lama, tapi mahal. Ada alternatif murah, yaitu di timur lapangan Gulun. Jalan sebelah selatan lapangan, ke timur sekitar 50 M, di sebelah kiri jalan akan ada penjual pecel yang cukup enak dengan harga yang murah. Tetapi kita harus sabar mengantri.

   

Nulai tahun 2015 ini Pemerintah kota sudah selesai mempercantik beberapa lapangan desa yang bisa dipakai untuk lari pagi. Bagi yang menginginkan udara segar tanpa polusi kendaraan dan suasana persawahan, bisa mendatangi lapangan di kelurahan Pilangbangau atau di kelurahan Kanigoro. Setiap minggu diadakan senam bersama gratis dan bisa lari mengelilingi lapangan sepakbola atau terapi jalan di batu lancip.

Kedua lapangan tersebut terletak di pinggir sawah sehingga udaranya segar. Lebar jogging track sekitar 2,5 M sudah mencukupi dengan kondisi saat ini yang belum banyak warga memanfaatkannya.

Arah lapangan Pilangbangau yaitu dari pasar burung Joyo menuju ke utara sampai lapangan Rejomulyo, di perempatan belok kanan lurus sampai lapangan yang terletak di sebelah kanan jalan. Sedangkan arah lapangan Kanigoro, mulai dari pasar burung Joyo menuju ke timur samapai perumahan Selo Kanigoro, belok kanan masuk jalan samping perumahan, mengikuti jalan tersebut sampai di lapangan Kanigoro yang terletak di sebelah kiri jalan. Bisa juga ditempuh dari perempatan pos polisi Klegen menuju ke arah timur, melewati Ikip PGRI kemudian menyeberangi jembatan yang di depan sudah sampai pasar Kojo. Setelah jembatan tersebut sebelum pasar belok kiri mengikuti jalan yang besar tersebut sampai di lapangan yang terletak sebelah kanan jalan. Silakan mencoba bagi pecinta lari pagi maupun senam pagi.

Lapangan Gulun Madiun

Lapangan Gulun Madiun

Lapangan Gulun Madiun

Lapangan Gulun Madiun

Lapangan Gulun Madiun

Lapangan Gulun Madiun

Lapangan Gulun Madiun

Lapangan Gulun Madiun


Responses

  1. Komenku: “Bagooooooooeeeeeessss……” (dua jempol)
    Ternyata udah banyak jg ya tulisannya. Tentang tulisan
    perjalanan ke waduk, lucu ah…., klo pergi jalan2 tuh hrs
    siap rugi. Klo membandingkan dg harga di madiun ya gak usah
    pergi2 alias di rmh ajjjaaaaaah
    Selain tulisan tentang curhatan, tulis juga tentang falsafah hidup
    atau pengalaman hidup yg orang lain bisa ambil hikmahnya dari
    tulisan itu. Pasti lebih seru dik.
    Ok, akhir kata, terimakasih atas kirimannya. Semoga sukses terus dan ditunggu tulisan2 yg lain. Salam sayang buat keluarga

    • Makasih Mbak komentarnya. Tapi saat jalan-jalan di Malang sama istri ke mall, kami dapat baju bagus-bagus dan jauh lebih murah dibanding di Madiun, dan makananpun juga sebanding dengan di Madiun. Makanya kami kaget saat di Selorejo.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: