Oleh: ardianita | 11/11/2011

Istri / Belahan Jiwa

Aku ingin bercerita tentang perkenalan dengan istriku.

Aku kenal pertama kali dengan istriku berkat dikenalkan oleh teman sekerjaku. Sebenarnya saat itu memang aku sedang cari istri, dan oleh temanku itu dikenalkan ke teman-teman ceweknya. Anehnya sampai saat itu setiap kali bertamu ke rumah cewek selalu tidak pernah bertemu dengan cewek yang diharapkan, kecuali istriku itu.

Saat pertemuan pertama aku sudah mulai tertarik. Aku merasa telah menemukan apa yang aku cari, maka aku terus melakukan pendekatan. Setiap Sabtu pagi aku pasti ke rumahnya. Kadang bertemu dengan dia, kadang bertemu dengan orangtuanya. Prinsipku waktu itu aku harus bisa mengambil hati orangtuanya, karena aku lihat sainganku cukup banyak. Aku harus memakai strategi yang berbeda untuk memenangkan persaingan. Minggu pagi aku pasti sudah hadir di sana. Aku tidak perduli bila berbarengan dengan cowok-cowok lain yang juga melakukan pendekatan. Jadi aku di sana mulai pagi sampai maghrib baru pulang. Waktu itu aku juga mengambil keuntungan yaitu bila pulang malam, aku bisa ngirit makan siang, apabila beruntung makan malam juga dapat (hahaha…….. maklum anak kost). Setelah kami menikah, aku ceritakan kelakuanku itu, istri dan ibu mertuaku langsung tertawa kecut karena merasa dikibuli hehehe………..

Rumah calonku itu di desa, dari Madiun sekitar 16 KM melewati jalan aspal desa yang sudah banyak lobangnya dan bila malam sangat jarang kendaraan lewat. Jadi waktu itu bila pulang malam aku selalu ngebut tidak peduli ada lubang aku sikat. Takut sih……Ada hal yang lucu, bila di depan ada sepeda motor, wah  rasanya ada temannya …. dan aku berusaha mendekat, tapi sepeda motor yang di depan itu pasti akan menambah kecepatan karena takut, mungkin dianggap ada perampok. Jadi seperti kejar-kejaran. Aku sendiri kalau melihat spion ada sepeda motor mendekat, aku juga pasti ngebut. Karena tidak ada yang tahu itu orang baik atau orang jahat.

Saat apel terutama hari Minggu sering ngumpul beberapa cowok sedang ceweknya satu. Suasananya kadang ramai kadang canggung. Ada yang bawa mobil bagus, ada yang bawa supporter, tapi aku tetap cuek dan yakin bila aku yang menang (aku sendiri kalau mengingat hal itu jadi heran, kok bisa ya aku waktu itu). Sampai mereka pulang satu persatu, aku tetap bertahan duduk sampai semua orang sudah habis. Bahkan pernah aku duduk sendiri tidak ada satupun tuan rumah yang menemani. (Cerita istriku, waktu itu aku ditinggal tidur karena semua sudah bosan menemani aku). Ya aku diam saja sampai saat sholat maghrib, ada yang keluar kesempatan aku minta ijin pulang, tapi ijin nunut sholat dulu…. (masih nekat)

Oh ya, sampai lupa nerangkan siapa istriku ini. Istriku ini lulusan IAIN Malang dan saat itu sudah diterima sebagai PegNeg yaitu guru di MAN. Jadi ini yang membuat aku nekat mengejarnya karena sesuai dengan apa yang aku inginkan.Ini pasti akan menjadi jaminan istri sholehah dan pandai mendidik anak. Sebenarnya waktu kuliah dulu kostnya dekat kost temanku (ini ceritanya setelah menikah), tapi aku tidak pernah tahu dia, padahal aku sering main di temanku itu. Mungkin belum waktunya ketemu. Ini cerita setelah menikah, ternyata istriku dulu adalah aktif di peragaan busana kampus dan sering tampil di lomba peragaan busana muslim. Padahal aku paling benci dengan yang namanya peragawati, eh sekarang malah jadi istriku. Kalau dulu aku tahu , mungkin aku tidak akan mendekatinya. Tapi ya sudah, kalau sudah jodoh ya tidak bisa ditolak.

Kembali ke ceritaku untuk mendapatkan dia. Saat itu 2 bulan sudah aku kenal dia dan saat itu akan mendekati hari raya Idul Fitri, saat aku apel hari Minggu, datang cowok dengan mengendarai Suzuki Carry yang masih baru, terus kami ngobrol ngalor ngidul. Di sela-sela cerita-cerita, dia ngaku kalau mobil itu mobil bapaknya. Dalam hati aku tertawa, kalau cuma mobil bapak, aku ya punya, bahkan lebih bagus dan baru. Mobil bapakku Kijang dan masih baru beli beberapa bulan yang lalu. Nah di hari raya, aku ngajak adik-adikku untuk pamer mobil (hahaha……… pamer kekayaan ortu), bersilaturohim ke sana sambil mengenalkan ke adik-adikku cewek yang sedang aku kejar. Ternyata adik-adikku setuju semua. Setelah menikah, istriku cerita, bahwa pada hari itu ternyata yang pamer mobil ke rumahnya ada 4 orang, dan istriku tahu kalau waktu itu aku sebenarnya juga pamer mobil yang dibungkus dengan silaturohim. hehehe……..

Setelah hari raya, aku apel lagi seperti biasanya, ada peristiwa yang membuat hatiku panas. Saat itu ketika aku sedang ngobrol dengannya datang cowok yang diantar oleh saudara perempuannya. Rupanya saudara perempuannya sudah kenal akrab dengan orang tua istriku (waktu itu masih belum jadi istriku). Mereka ngobrol akrab sekali sedangkan aku dibiarkan duduk sendiri dianggap tidak ada. Tak lama kemudian mereka pamit akan pulang dan berpesan bahwa orang tuanya ingin silaturohim dan berharap bisa dilangsungkan dengan lamaran! Deg, hatiku langsung panas…. Aku harus mendahuluinya. Aku harus berani!. Kemudian cewekku itu nemui aku lagi dan ngobrol kembali, sedangkan orangtuanya masuk ke dalam rumah lagi. Setelah agak lama ngobrol, sekitar akan ashar (oh ya, aku selalu nunut sholat di rumahnya karena setiap apel aku selalu melewati waktu sholat) aku bilang ingin bertemu dengan Bapak Ibu. Aku sendiri heran, kok berani sekali aku bicara sendiri ke orang tuanya, padahal aku termasuk cowok pemalu. Di hadapan Beliau aku utarakan bahwa orang tuaku kemarin telepon ingin berkenalan tidak lebih tidak kurang. Ayahnya agak terkejut waktu itu, dan menanyakan ulang maksud bicaraku. Setelah aku yakinkan, Beliau setuju saja, wong ingin silaturohim saja kok. Yes…… skenarioku berjalan. Padahal waktu itu aku menipu, karena aku belum bicara apapun dengan orangtuaku. Aku langsung pulang ke kost-an dan menelpon ibuku, untuk aku yakinkan bahwa Bapak Ibu harus ke tempat calonku minggu depan. Orang tuaku kaget, mbokyao dibicarakan yang baik dan jangan tergesa-gesa. Aku yakinkan, bila tidak segera aku akan kehilangan dia. Orang tuaku langsung koordinasi dengan pamanku yang di Magetan, siapa tahu kenal karena sama-sama kerja di Depag.

Minggu pagi aku menyusul orang tuaku di rumah pamanku di Magetan dan bersama-sama menuju rumah cewekku (padahal aku belum pernah mengikrarkan bahwa aku cinta dia, apalagi dia…….) Sampai di sana, suasana jadi ramai. Karena ternyata pamanku sudah kenal akrab dengan orang tua cewekku. Ternyata dunia ini sempit, kemana-mana bertemu dengan saudara. Akhirnya semua berjalan dengan lancar bahkan ada bonus membicarakan tanggal lamarannya.

Setelah menikah, aku baru mendapat cerita dari ibu mertuaku, bahwa setelah aku mengutarakan permohonanku untuk silaturohim, ayah mertuaku pergi mencari data pribadiku ke teman yang ngenalkan aku, kemudian pergi ke alamat rumahku dan tanya ke tetangga kanan kiriku. Jadi ayah mertuaku sudah tahu siapa orang tuaku dan diriku. Kemudian meminta dengan sangat ke cewekku untuk menerima aku, karena ayahku kawatir bila ayahku keburu pergi dan cewekku masih bingung cari jodoh. Waktu itu cewekku tidak setuju dengan aku, tapi karena aku adalah pilihan ayahnya, ya….. akhirnya dia menerimanya. (untung aku juga melakukan pendekatan dengan orang tuanya. Tapi seandainya Alm Ayahku tidak mendukung saya, lalu saya nikah sama siapa………)

2 Minggu kemudian aku melamarnya, dan minggu berikutnya ganti kunjungan ke rumahku. Minggu berikutnya cewekku prajabatan selama 2 minggu di Surabaya. Setelah pulang dari prajabatan yang aku jemput ke Surabaya, terjadi peristiwa besar dalam hidupku. Waktu itu hari raya Idhul Adha, kami pulang dengan perasaan bangga karena cewekku masuk rangking 10 besar. Ternyata sampai di rumah ayah cewekku sedang sakit keras, kena serangan jantung gara-gara makan hati kambing kurban. Semua panik. Diajak berobat ke rumah sakit, Beliau tidak mau. Akhirnya aku malam itu nginap di rumahnya. Walau sakitnya sudah parah, ternyata Beliau tidak pernah melupakan untuk sholat, bahkan saat waktu subuh. Setelah sholat subuh Beliau mau diajak ke rumah sakit. Pamanku lalu mencarikan kendaraan, aku nunut mandi di sana. Setelah semua mandi, kami berangkat menuju rumah sakit, ibu duduk di depan samping  sopir, aku memangku kepala Beliau dan cewekku disampingku dan sebelahnya pamannya. Sepanjang jalan Beliau tidak pernah lepas dari zikir, sekitar 3 KM Beliau minta berhenti minta minum. Kami berhenti di depan warung kecil dan minta air satu gelas, setelah di minum, Beliau seperti tersedak dan mengucap Laa ilaha illallah….Beliau diam. Sontak ibu menjerit. Aku sendiri bingung, aku pikir Bapak tertidur. Akhirnya dibawa balik ke puskesmas terdekat dan diperiksa dokter, ternyata Beliau sudah meninggal. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Kami semua histeris, karena Beliau meninggal mendadak tanpa sakit yang berkepanjangan. Siang hari setelah semua keluarga dan teman-teman Beliau berkumpul, semua sepakat aku dinikahkan di depan jenasah Beliau sebelum jenasah Beliau dimakamkan. Aku benar-benar tidak siap apa-apa. Oleh bapak kepala KUA yang juga teman baik Bapak, mas kawinnya diminta uang saja supaya praktis. Aku buka dompetku ternyata tinggal Rp. 40.000, pak KUAnya minta sebaiknya Rp.50.000 akhirnya ada tetangga yang minjami Rp. 10.000 beserta baju batik dan songkoknya. Suasana waktu itu ……… aku tidak bisa membayangkan, kok aku begitu berani dan kuat. Padahal beberapa waktu sebelumnya di hatiku sempat muncul keraguan, apakah aku sudah siap menikah? apakah sudah benar pilihanku ?………………… tapi siang itu semua berjalan lancar tanpa ada keraguan sedikitpun. Akhirnya aku dinikahkan di depan jenazah Bapak dan disaksikan semua pelayat. Orang tuaku sendiri masih dalam perjalanan, aku hanya ditemani oleh 1 orang temanku. Pernikahan berjalan lancar, tanpa harus di ulang. Sekarang aku sudah punya istri, dan jenazah Bapak diusung menuju tempat peristirahatan yang terakhir.

Di awal pernikahan kami, kami sering bertengkar mengenai masalah kecil. Maklum kami tidak pacaran dan memang baru kenal lebih dalam setelah menikah. Aku mengenal istriku sampai menikah hanya butuh waktu 3 bulan. Tapi berhubung kami sudah sepakat untuk hidup bersama, ya semua permasalahan bisa diselesaikan. Jadi kami pacarannya saat menikah, bahkan sampai sekarang dengan anak yang sudah besar-besar masih terasa pacaran.

Istriku termasuk orang yang sabar dan penuh pengertian, jadi saat aku marah dia pasti diam tanpa mau mengimbangi. Kalau sudah tidak kuat, pasti menangis. Nah kalau sudah begitu aku pasti langsung luluh dan minta maaf. Begitulah awal-awal pernikahan yang tanpa diawali pacaran. Kalau sekarang……. berhubung sudah lama saling kenal, kalau ada yang marah ya didiamkan saja, nanti kan capek sendiri.

Itulah cerita mengenai riwayat pernikahanku dengan istriku. Saat ini istriku mengajar di MAN mata pelajaran Matematika. Pelajaran yang paling ditakuti oleh sebagian besar murid. Istriku termasuk orang yang sabar dan tidak bisaan (mudah merasa kasihan). Mangkanya sering dimanfaatkan orang, tapi balasannya pertolongan dari Allah itu selalu tidak pernah diduga di saat dibutuhkan.

 


Responses

  1. Hebat Pak… dramatis sekaligus mengharukan. Saya berdoa agar Bapak sekeluarga selalu berbahagia dan mendapat pertolongan dari Alloh SWT. Amin.

    Kisah Bapak sangat berguna bagi saya sebagai motivasi untuk segera menikah. Saya berusaha untuk semakin yakin bahwa jika kita berniat dan berbuat baik, meskipun jalan yang dilalui penuh rintangan, maka akan selalu datang pertolongan-Nya dari arah yang tak diduga-duga.

    Saya suka dengan blog Bapak ini karena selain kisah Bapak di atas, saya juga penggemar KA serta selain itu ibu saya berasal dari Magetan yang notabene dengan Madiun. Setahun sekali kami sekeluarga berkunjung untuk ziarah sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga di sana.

    • Amin. Terima kasih atas doanya.
      Apabila Mas sudah menemukan pasangan yang cocok, segeralah ajak menikah. Jangan menunggu sampai ketemu pasangan yang cocok 100%, yang penting syarat utama untuk mengarungi kehidupan ini sudah ketemu, seperti agamanya, pribadinya, janganlah ditunda untuk menikah.

  2. Saya suka mendengar cerita seperti yang dialami bapak. Ingin seberuntung bapak dalam mempunyai seorang istri dan membina tumah tangga. Saya juga ingin pacaran setelah menikah, jadi aman.
    Sayang belum menemukan lagi calon yang tepat. Calon terakhir saya lebih memilih temannya karena sudah dekat dengan ibundanya (karena ia perempuan jadi ada ikatan emosional yang sudah terbangun, walaupun saya yakin saya jauh lebih berkualitas dibanding calonnya itu. Dan ia lebih memilih ibundanya dari pada saya… hiks. Saya kurang beruntung karena baru mengenal dia saat ia sudah punya teman special. Hiks.

    • Sabar ya Mas. Mencari pendamping hidup memang membutuhkan kesabaran karena tidak mudah. Kalau sudah menemukan yang dirasa cocok, perlu melakukan pendekatan ke orang tuanya. Menurut saya,gadis yang baik adalah yang menurut ke orang tua,asal orang tuanya juga baik. Semoga Mas segera menemukan jodoh Mas. Amin

  3. Siip, mantaf ceritanya. Nice blog

    • Terima kasih

  4. mantepppppppppppppppppppp


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: