Oleh: ardianita | 09/27/2010

Sarangan

Hari Sabtu siang setelah anak-anak pulang sekolah, kami (rombongan teman-teman kantor istri) berangkat dengan bis menuju Sarangan Magetan untuk berlibur menenangkan pikiran. Sepanjang perjalanan hujan turun tapi tidak deras. Tempat wisata Sarangan berjarak kurang lebih 36 Km dari kota Madiun menuju barat. Tempatnya cukup dingin karena ketinggiannya sudah di atas 1000 m dari permukaan laut, berada di ketinggian gunung Lawu, sehingga cukup nyaman sebagai tempat istirahat. 1,5 jam perjalanan, sampai juga kami di Sarangan. Selama perjalanan cukup ramai kendaraan selain itu suasana hujan sehingga memperlambat perjalanan.

Untungnya di Sarangan sudah mulai reda. Kami sekeluarga menginap di hotel Telaga Mas 2 yang menghadap ke telaga. Cukup mahal juga taripnya, setara dengan hotel berbintang bila di kota besar, berhubung kami serombongan sehingga mendapat diskon. Tapi berhubung sudah diniatkan berlibur, ya… tidak apa-apa. Fasilitasnya cukup lumayan, tempat tidur 2 yang cukup untuk suami istri + 2 orang anak, kamar mandi memakai pancuran atau berendam, WC duduk, dan yang penting air hangat selalu tersedia. Karena ada hotel yang menyediakan air hangat pada jam-jam yang telah ditentukan, di luar jam tersebut tidak tersedia. Kami semua langsung mandi supaya segar, kemudian kami turun untuk jalan-jalan sore. Suasananya agak mendung dan cukup ramai. Maklum malam Minggu. Sarangan hanya ramai saat-saat hari libur sekolah, di luar itu cukup sepi. Kantor saya pernah rapat kerja dengan menginap saat hari kerja. Suasananya bila sore dan malam hari sepi dan gelap, sehingga tidak nyaman untuk jalan-jalan. Orang jualanpun tidak ada, mulai Jum’at sore pengunjung sudah mulai datang dan puncaknya hari Minggu pagi. Beginilah suasana sore itu. Rasanya tidak ada habis-habisnya saya mengabadikan keindahan Sarangan dengan kamera, walau saya sering berkunjung ke sini. Rasanya tidak pernah bosan untuk menikmati keindahan ciptaan Allah swt di tempat wisata Sarangan ini.

Suasana danau saat itu tenang, tidak ada kapal boat yang melintas. Semua istirahat karena sudah menjelang maghrib.

Setelah solat maghrib, saya turun kembali ke telaga bersama istri untuk menikmati suasana malam. Anak-anakku senang di kamar sambil lihat TV, mereka hanya titip untuk dibelikan sate kelinci. Di Sarangan sate kelinci merupakan makanan khas, dengan Rp. 10.000 sudah lumayan untuk mengisi perut yang lapar, karena sudah pakai lontong.

Suasana cukup ramai dengan pedagang sate, pedagang bakso, dan pedagang ronde. Tukang perahu dan tukang kuda sudah istirahat. Para pengunjung umumnya duduk-duduk sambil menikmati makanan dari pedagang-pedagang tersebut atau sekedar bercengkerama. Saya bersama istri hanya jalan-jalan di sekitar hotel, kemudian duduk di pinggir telaga sambil cerita ngalor ngidul. kami pesan bakso untuk menghangatkan suasana yang cukup dingin, karena anginnya agak kencang. Setelah makan bakso, ganti pesan jagung bakar. Di sini ada jagung manis harganya Rp. 4000 dan yang biasa Rp. 2000. Saya pesan jagung manis, dan ternyata manis juga walaupun hanya dibakar tanpa diberi bumbu. Beginilah Sarangan bila malam hari di waktu liburan, lampu-lampu dinyalakan. Foto yang pertama saya ambil dari kamar hotel, setelah saya mulai kedinginan dan kembali ke kamar. Sedang yang kedua saya ambil dari pinggir telaga. Saya menghayal, bagaimana kalau tiba-tiba dari dasar telaga muncul ular naga yang besar………………

Pagi hari setelah solat subuh (saya agak mbangkong, solat subuh jam 5), saya keluar untuk menikmati suasana pagi hari. Ternyata di luar sudah banyak pengunjung yang sekedar jalan-jalan pagi atau lari-lari pagi.

Semakin siang suasana semakin ramai. Pengunjung mulai berdatangan dan tukang kuda dan tukang perahu terus merayu setiap pengunjung untuk memakai jasanya. Selain perahu boat, juga ada bebek-bebekan yang dikayuh sendiri. Sewa kuda dan perahu di sini sudah ditentukan harganya, sehingga seragam tidak ada persaingan yang tidak sehat. Tetapi bila mau sedikit sabar, harga tersebut ternyata bisa juga ditawar, rata-rata turun Rp. 5000.

 

Jam 12 siang waktunya untuk pulang, karena harus sudah check out dari hotel. Saya meluncur pulang ke Madiun untuk memulai kehidupan rutinitas kembali.


Responses

  1. Pak, jk tdk ada aral melintang tgl 31 Desember 2010 ini kami sekeluarga akan ke Madiun dan esok hari 01 Januari ke Sarangan. Saya sdh pernah ke Sarangan dua kali, sangat elok pemandangannya, segar udaranya dan nyaman suasananya.

    Tp sy tdk tahu kondisi saat ini, masihkah seindah 10 tahun lalu?

    Oh iya pak, sy membaca tulisan di atas dgn seksama, dan sy temukan kalimat 1.5 jam perjalanan sampai juga kami di Sarangan. Pertanyaan sy, kok lama juga waktu tempuh Madiun-Sarangan? apakah kondisi jalan buruk ataukah medan yang berat? Mhn info ttg hal tersebut.
    Terimakasih,
    Wassalam,
    Sigit, Jakarta Utara

    • Bukan berat Pak, jalannya. Saat itu kami rombongan naik bis besar. Perjalanan dari madiun menuju Sarangan lewat Gorang-gareng, dan kebetulan bis yang saya naiki ada masalah saat di Magetan. Jadi perjalanan yang kami tempuh cukup lama. Terima kasih

  2. Par Ardianita,
    akhirnya sy sampai juga di Madiun pada 31 Januari 2010 pukul 18:00, langsung ke Hotel Merdeka setelah 1 minggu sebelumnya saya booking via internet.

    Bermalam tahun baru 2011 di Madiun cukup menyenangkan, apa lagi 2 anak saya yang nampak happy krn bs berada di kota yang belum pernah dikunjungi.

    Jelang pergantian tahun baru, kota Madiun sdh gempita dengan suara terompet, namun yg kurang enak adalah konvoi motor 2 dua dengan suara knalpot meraung-raung di sepanjang jalan Pahlawan, suguhan yang berlebihan.

    Pagi hari, 1 Januari 2011, setelah sarapan pagi di hotel, kami bertolak ke Sarangan. Berangkat dengan optimisme bhw perjalanan akan lancar krn masih sekitar jam 09:00 pagi. Oh iya, sy juga beli oleh2 di Mirasa spt info par Ardianita, lengkap memang varian oleh2nya dan lumayan murah, sy jg sempat beli pecel di 99, jl. cokroaminoto, pancen enaaakkkk.

    Setelah berkemas dan melaju ke Sarangan ternyata eh ternyata, sesampai di Plaosan, kemacetan sdh teramat parah, tak bergerak sampai 1 jam di depan pasar. Setelah lewat pos retribusi jalan lancar kembali. Nah, ketika sampai pertigaan terakhir ke Telaga Sarangan, kembali macet total. Lebar jalan dan volume kendaraan yang masuk tdk berimbang, ditambah perilaku pengendara motor, mayoritas, tdk disiplin.

    Lepas loket karcis [ gerbang ] ,kembali seluruh kendaraan
    sama sekali tak mampu bergerak, parkir mobil sdh habis tak bersisa. Akhirnya kami hanya parkir di dekat puskesmas Sarangan.

    Dalam benak saya, pemerintah Kab. Magetan belum siap dengan lonjakan wisatawan yang sangat tinggi. Ini terlihat di lapangan dengan jumlah Polisi Lalu Lintas dan petugas dari Dinas Perhubungan yg secara kuantitas sangat jauh dari mencukupi. Semoga tahun2 depan hal tsb bs diantisipasi dengan mengerahkan petugas dari Polres Magetan, POL PP dan Pramuka, Ormas jika perlu.

    Salam,
    sigit

    • Semoga liburan Bapak sekeluarga membawa kenangan yang indah sehingga suatu hari nanti akan membawa Bapak sekeluarga untuk datang kembali menikmati kota Madiun dan sekitarnya.
      Terima kasih

  3. Pak. aku mau tanya gimana kondisi jalan magetan~sarangan apakah mampu untuk mobil dg mesin cc. rendah untuk menaiki tanjakan? trima.ksh

    • Jalan Magetan ke Sarangan kini sudah diperlebar. Untuk kendaraan cc rendah… mobil saya carreta 1000 dengan penumpang 6 orang mampu naik sampai Sarangan. Saya pikir sopirnya sudah tahu medan yang akan dilewati, pasti kuat di tanjakan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: