Oleh: ardianita | 02/26/2010

Acara Tingkeban

Saya kali ini berkesempatan melihat acara tingkeban atau selamatan 7 bulan bayi dalam kandungan. Dilakukan selamatan ini tujuannya agar ibu dan bayinya sehat dan bisa melahirkan dengan lancar dan sehat.
Acara ini dipandu oleh seorang dukun bayi. Apa yang saya lihat kali ini berbeda dengan apa yang saya jalani waktu istri saya mengandung anak pertama. Yang kali ini mbah dukunnya masih menjalankan ritual-ritual kuno, seperti menyediakan sesaji,  menyediakan cokbakal, dan bermacam-macam bunga di air siraman .
Acara ini ada dua, yang satu dilakukan oleh ibu-ibu pengajian yang membacakan surat Yusuf dan Maryam, yang satunya lagi dilakukan oleh mbah dukun. Saya tidak tahu bagaimana hukumnya, tergantung dari mana sudut memandangnya.
Setelah ibu-ibu pengajian selesai membaca Al Qur’an, dilanjutkan iring-iringan pembawa sesaji oleh orang tua dan keluarga orang tua ke ruang tamu. Setelah diletakkan di ruang tamu,  pembawa sesaji dilarang kembali melewati jalan yang sama, tetapi harus keluar rumah dan kembali masuk lewat pintu belakang. Untung rumahnya mempunyai pintu belakang, kalau hidup di perumahan tipe 27 terus bagaimana?
Calon ayah dan ibu keluar rumah berdiri di tempat pemandian, calon eyang putri dengan membawa selendang jongkok di bawah calon ibu membuka selendangnya untuk menerima kelahiran sang bayi . Bayinya disimbulkan dengan kayu manis yang diletakkan ke selendang oleh mbah dukun , kemudian digendong oleh eyang putri dengan suka cita .
Acara selanjutnya dilakukan siraman yang diawali oleh calon eyang kakung dilannjutkan calon eyang putri dengan memakai siwur dari batok kelapa yang masih ada kelapanya . Calon ayah dan ibunya terlihat basah kuyup dan kedinginan. Selanjutnya dilakukan oleh 7 kerabat yang dituakan.
Acara selanjutnya dilakukan oleh mbah dukun. Ini yang agak ramai, karena ternyata mbah dukunnya tidak menyiram calon ayah dan ibu, tetapi ke arah penonton yang melihat acara siraman ini. Semua tidak siap, akhirnya semua basah kuyup termasuk tukang foto yang disewa. Untung fotonya tidak rusak.
Cokbakal, kendinya dipecah dan uang yang ada di bak air jadi rebutan anak-anak . Siwurnya pun direbut oleh seseorang, yang katanya bisa sebagai pemercepat untuk segera punya anak bagi pasangan yang sulit punya anak. Acara dilanjutkan dengan membelah kelapa kuning yang telah digambari wayang . Calon ayah ternyata mampu membelahnya tepat di tengah kelapa . Menurut kepercayaan orang Jawa, apabila membelahnya tepat di tengah dan rujaknya terasa manis, anaknya nanti kemungkinan besar perempuan. Setelah selesai acara, saya sempat bertanya ke calon ibu, apakah sudah diUSG? katanya sudah, dan calon bayinya berkelamin perempuan. Percaya atau tidak, itulah kepercayaan orang Jawa.
Beginilah setelah selesai acara .
Calon ayah dan ibu masuk rumah untuk ganti baju, dan dilanjutkan makan bersama di ruang tamu. Setelah itu ada acara yang menurutku aneh, yaitu mbah dukun meletakkan rujak crobo di pintu masuk rumah, yang kemudian dimakan oleh calon ayah dan ibu . Calon ayah di luar pintu sedang calon ibu di dalam. Saya tidak tahu apa maksud mbah dukun dengan acara ini. Bukankah makan di pintu masuk merupakan larangan bagi orang Jawa?.
Acara selesai, calon ayah disuruh masuk ke rumah oleh mbah dukun sedangkan ibu tinggal di luar rumah sampai para tamu undangan selesai makan dan bercengkerama. Acara ini menurutku juga aneh. Apa maksud memisah calon ayah dan ibu?. Setelah rangkaian acara selesai, mereka baru boleh berkumpul kembali.
Beginilah salah satu acara adat tingkeban di suatu daerah, yang antar daerah sudah berbeda urutan acaranya.


Responses

  1. hehe..banyak gambar yg disensor yahh..
    thx ya mas.. doanya aja smg sehat n selamat ibu dan bayi nya pas lairan nanti..
    salam ma keluarga dirmh..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: