Oleh: ardianita | 04/15/2009

Stasiun Papar

Setelah nyontreng dalam pemilu kemarin, saya sekeluarga merencanakan untuk pulang ke kampung halaman. Sudah lama tidak pulang kampung setelah lebaran kemarin. Jalanan menuju timur pada pagi hari itu cukup lenggang, tetapi yang ke arah barat lumayan padat. Mobil bagus-bagus dengan plat L, W dan N mendominasi jalanan. Berarti mereka tidak nyontreng? Atau nyontreng di kampung?

Jum’at pagi, saya main ke stasiun kereta Papar, di mana masa kecilku sering main di sana.stasiun-papar Model bangunannya masih seperti masa kecilku dulu, tetapi warna catnya masih baru. Di ruang tunggu dan dan tempat penjualan tiket sedang mengalami perbaikan lantai. Peronnya masih seperti dulu. peron-stasiun-papar Dahulu di peron ada 4 spoor, sekarang tinggal 2 yang aktif sedang yang lainnya sudah tidak ada relnya.

Di stasiun Papar masih menggunakan sinyal mekanik, ruang PPPKA (Petugas Pengatur Perjalanan KA) masih terawat dengan baik.sinyal-masukruang-pppkadalamnya-pppka

Jam 6 pagi kereta Gajahyana dari Jakarta menuju Malang memasuki stasiun. Seperti biasa Kepala stasiun setelah membuka sinyal masuk mulai mengambil posisi berdiri dengan gagah di depan ruang PPPKA dengan memakai topi kebesaran merah warnanya, untuk memastikan kereta dalam keadaan lengkap dan tidak ada tanda-tanda kesalahan yang bisa menyebabkan kecelakaan.

kepala-stasiun

Gajahyana mulai memsauki peron Papar gajahyana-masuk-papar

40 menit kemudian dari arah Kediri masuk rangkaian kereta Dhoho yang ditarik lok BB mulai memasuki stasiun. Penumpang cukup penuh, kelihatannya banyak yang mulai balik ke Surabaya karena anak sekolah tidak libur. doho-masuk-papar2

Di Papar tidak banyak yang naik, sekitar 5 menit kereta sudah diberangkatkan kembali. Priiit….. Kepala Stasiun meniup peluit dengan mengangkat eblek hijau tanda kereta aman untuk berangkat. Masinis menyahut dengan membunyikan peluit loko, dimana peluit kondektur ? kok tidak terdengar ? Tapi keretapun tetap berangkat.selamat-jalan

Sebelum pulang saya sempatkan memotret ijo-ijo di pinggir rel, dimana dulu saya sering mandi ramai-ramai di kanal ini setelah capek cari jangkrik atau habis nyuri tebu.ijo-ijo-pinggir-rel

Foto-foto seputaran stasiun Papar


Responses

  1. mang sekarang kerja di mana?ak juga anak Kediri

    • sekarang aku ada di madiun, masih dekat dengan kediri

  2. saya ada di jogjakarta saya rindu kec.papar .dulu sya jg sering nyuri tebu…..rame2x wehwewhweh…..

  3. hehehe

  4. Mas, dulu pernah “menangi” percabangan jalur ex-KSM dari Papar ke Pare?

    • Kecil saya dulu tidak pernah tahu kalau ada percabangan rel yang menuju Pare dari Papar. Rumah saya sendiri dekat dengan stasiun, jadi sering main di rel dan stasiun untuk melihat sepor kluthuk. Sekarangpun kok tidak terlihat bekas-bekasnya. Mungkin pak Luthfi yang tahu, karena Beliau dulu pernah membukukan jalur Jombang-Pare-Kediri
      Terima kasih

  5. Mas mau nanya, ada engga kereta dari stasiun kediri ke papar. kalo ada naik kereta apa tuh? berapa menit ya? terima kasih, :)salam kenal

    • Bisa naik kereta Dhaha. Paling perjalanannya sekitar 30 menit. Untuk jadwalnya, saya tidak hapal. bisa di googling saja.
      Terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: